Saturday, 10 April 2010

Metode “perah” untuk menjernihkan suara burung

Suara serak burung biasanya disebabkan oleh adanya luka yang berlanjut dengan infeksi di kerongkongan. Kalau luka sudah bisa disembuhkan dengan antibiotik, biasanya burung masih serak karena banyak lendir di kerongkongan yang tidak keluar. Seringkali pula burung serak bukan karena adanya luka tetapi karena banyak lendir di kerongkongannya. Dalam hal ini, burung tetap terlihat segar bugar ditandai dengan makan lahap dan gerak lincah, tetapi suara serak, atau bahkan kadang terlihat megap-megap. Jika hal itu yang terjadi, kemungkinan besar kerongkongan burung Anda memang dipenuhi lendir ataupun ada sisa makanan menutup lubang hidung.

Coba lakukan langkah berikut:

  1. Periksa lubang hidung burung. Banyak di antara kita tidak menyadari bahwa ternyata lubang hidung burung kita tertutup kotoran, bisa berupa lendir yang mengering ataupun sisa makanan yang mengering (terutama pakan yang semula lembek seperti bubur sun untuk pakan burung srindit, atau juga buah pisang atau pepaya). Jika memang ada bagian yang tertutup, maka burung perlu segera dipegang dan Anda bersihkan lubang hidungnya. Lubang hidung yang tertutup menyebabkan suara burung tidak bisa los (banyak kosongnya) dan juga burung sering terlihat megap2 ataupun sekedar banyak membuka paruh.
  2. Jika lubang hidung tidak tersumbat, maka burung Anda perlu “diperah”. Perah di sini diambil dari nama daun jenis tumbuhan perdu yang bernama “perah” (atau sering disebut “lateng putih”). Tumbuhan ini banyak dijumpai di halaman rumah ataupun di kebun-kebun/tegalan/ sawah. Daun ini biasanya untuk “memerah” merpati ataupun burung perkutut agar kerongkongannya terbebas dari lendir. Untuk memerah, ambil 5-7 daun perah, bersihkan, keringkan, dan kemudian dilumat-lumat agar lembek (jangan sampai hancur). Setelah dilumat2, tetesi 4-5 tetes air bersih. Lumat2 lagi. Maka jika diperas, akan keluar air berwarna hijau, yakni air perasan daun perah. Air ini kemudian diteteskan ke mata burung, masing2 3-4 tetes (Perhatikan cara memegang burung, jangan sampai terlepas tetapi jangan pula sampai tergencet.
  3. Setelah ditetesi air perah, burung biasanya langsung “kelenger” seperti sekarat dan mulut megap-megap.
    Sembari terus dipegang, usahakan paruh burung berada di bawah dan ekor di bagian atas sehingga cairan kental yang mengalir dari mulut burung bisa lancar keluar. Biarkan kondisi ini sampai sekitar 10 menit. Kalau belum ada 10 menit burung sudah membuka mata sambil koar-koar, maka perlu ditetesi lagi 1-2 tetes air perahan daun perah.
    Kalau ada lendir yang tidak juga menetes dari paruh burung, bantu untuk dikeluarkan dengan cara diurut2 dengan jari (minta bantuan teman lain untuk melakukan “pemerahan”).
    Setelah hal itu berlangsung selama sekitar 10 menit, semprot kemudian kedua mata burung sampai benar-benar bersih. Setelah itu, masukkan burung ke karamba.
    Setelah masa pemerahan, biasanya burung terus mengibas2kan kepala/paruh dan mengeluarkan lendir2 yang belum keluar sebelumnya.
    Kondisi ini bisa berlangsung selama 2-3 jam (bahkan ada yang sampai 2 hari kemudian masih sering mengibaskan kepala dan mengeluarkan ingus/lendir).
    Setelah diperah, maka Anda akan menjumpai suara burung Anda lebih nyaring dan jernih dari sebelumnya.
    Metode perah ini sudah saya cobakan untuk MB dan AK. Hasilnya memuaskan.
    Untuk burung kecil seperti kenari, saya belum mencobakan karena belum ada yang bisa digunakan untuk eksperimen. (Kalau ada yang mencoba, takaran tetesnya hanya perlu 1-2 tetes).

UNTUK MELIHAT GAMBAR DAUN PERAH ATAU YANG BIASA DISEBUT ANTING-ANTING, BISA DILIHAT PADA ARTIKEL BERJUDUL ANTING-ANTING (klik saja).

PERHATIAN:

  1. Begitu burung ditetesi dengan perasan daun perah, jangan sekali-sekali dilepaskan ke kandang. Sebab, saat itu biasanya lendir langsung mengalir. Kalau posisi burung tidak menungging, lendir berisiko menutupi lubang pernafasan dan bisa mernyebabkan burung wassalam.
  2. Begitu ditetesi, Anda jangan kaget kalau burung Anda langsung lemas tak berkutik seperti burung yang sedang dijemput ajal dan hanya paruhnya membuka lebar dengan nafas tersengal2.
  3. Setelah terapi ini, burung jangan sampai terkena sinar matahari secara langsung selama sehari.
  4. Perahan daun perah jangan sampai mengenai mata Anda kecuali Anda akan mengalami rasa pedih yang luar biasa di kelopak mata.
(dikutip dr:omkicau.com)

Melatih burung makan buah dan voer

Taburkan dan tekan voer di pisang atau kates. Kalau dia makan pisangnya, lama2 juga terbiasa dengan voernya dan nantinya akan mau makan voer.

Kalau itu kepodang tangkapan hutan, saya yakin dia mau makan pisang atau kates/pepaya. Kalau peliharaan sudah lama dan terbiasa hanya diberi ulat dan jangkrik, ya perlu dilatih lagi makan buah. Caranya, ya jangkrik atau ulat dikasihkan/ditekan ke buah pisang atau pepaya. Dalam tiga hari kemudian besar kemungkinan tanpa diberi jangkrik pun, kepodang akan mematuk dan makan buahnya.
Kalau sudah mau makan buah, barulah dilatih makan voer.

Sementara itu untuk melatih burung bukan pemakan buah agar mau makan voer, bisa menggunakan kroto yang dicampur voer dengan perbandingan 1-1. Semakin lama, porsi kroto dikurangi sampai akhirnya burung mau makan voer.


(dikutip dr:omkicau.com)


Berbagai model tangkringan dan fungsinya

Tangkringan dan sangkar burung memiliki beragam bentuk. Semua itu dibuat sesuai tujuan dan jenis burungnya.

Berikut ini beberapa gambar sangkar dan tangkringan di dalamnya, serta apa manfaatnya:

sangkar11

Gambar A adalah sangkar bulat dengan diameter beragam, mulai 40 sampai dengan 60 cm atau lebih. Tangkringan model itu digunakan untuk burung berekor panjang (murai batu misalnya), dengan tujuan agar ekor MB tidak rusak ketika MB tidur. MB tidur biasanya mencari tangkringan tertinggi dan mepet di ujung tangkringan. Dengan tangkringan model itu, maka ekor burung tidak menempel sangkar.

Sama fungsinya dengan Gambar A adalah sangkar Gambar C. Hanya saja ini menggunakan tangkringan model “T”. Kalau Gambar A, tangkringan bagian atas dihubungkan ke sangkar/kerangka sangkar dengan kawat (biasanya kuningan agar tidak mudah berkarat).

Sedangkan sangkar Gambar B menggunakan tangkringan model susun silang. Tangkringan ini berisiko merusakkan ekor burung ketika tidur. Tangkringan model ini biasanya digunakan untuk MB yang kalau sedang tarung bergaya geser kanan-kiri tubuh. Kalau MB model tarung seperti itu diberi tangkringan model T, dia akan banyak naik turun dari tangkringan kepala “T” ke tangkringan panjang (tempat dudukan tangkringan “T”).

sangkar2

Sangkar Gambar D digunakan untuk sangkar harian burung2 kcil seperti kenari ciblek dan lain-lain. Tetapi tangkringan model ini tidak disarankan karena ekor burung mudah rusak.

Sangkar Gambar E biasanya untuk kenari, kacer dan sebagainya. Tangkringan model ini ditujukan untuk burung yang berdasar gayanya sering bermain naik-turun dari satu tangkringan bawah ke tangkringan atas dan sebaliknya.

sangkar3

Gambar sangkar F dan G juga mempunyai fungsi yang hampir sama dengan sangkar Gambar E.

sangkar4

Sedangkan sangkar Gambar H mempunyai fungsi yang sama dengan sangkar Gambar A yakni agar ekor burung tidak rusak karena menempel jeruji sangkar. Ini biasanya digunakan untuk tangkringan Anis Merah atau Anis Kembang. Sedangkan sangkar Gambar I biasanya untuk pentet, kenari, atau sulingan yang suka nangkring di tempat sempit. Tetapi tangkringan model ini tidak dianjurkan untuk digunakan.

Masih banyak lagi model sangkar dan tangkringannya, tetapi sementara saya sampaikan itu dulu yakni model tangkringan yang umumnya dipakai para penghobi burung.

Tentu ini lain dengan model tangkringan burung paruh bengkok/LB yang biasanya juga diberi main-mainan dll.

(dikutip dr:omkicau.com)

Agar burung tidak lepas

1. Perhatikan cantelan sangkar. Periksa apakah mur/bautnya benar2 sudah kencang. Selalu cek, setiap hari sebab kadang kalau mur/baut kendor, maka ketika ketiup angin, sangkar bergerak-gerak, goyang, memutar, maka sangkar bisa lepas dari cantelannya. . . . Blam. . . burung lepas. . . . .

2. Perhatikan pula gantungan pada gantangan yang kita pakai. Kalau menggunakan paku, apa benar pakunya nancap kencang; tidak karatan; tidak aus. Perhatikan dudukan gantungan; kalau kayu, bambu dan sebagainya, apa tidak lapuk; tidak keropos dsb. 3. Usahan menggantungkan sangkar dengan menyantelkannya pakai tangan langsung; kalau tinggi pakai alat bantu kursi yang kokoh berdiri. Kalau terpaksa pakai tongkat yang berpaku/berkawat melengkung maka perhatikan keseimbangan beban sangkar; juga kekuatan sangkar. Jika tidak seimbang berisiko sangkar memutar saat diangkat ke arah gantangan. Jika kerangka sangkar tidak kuat, juga berisiko patah dan sangkar jatuh berdebam. . .

4. Buat pintu sangkar dengan engsel (kebanyakan model gesekan naik turun) yang selicin mungkin. Dengan demikian, meskipun pintu tidak diberi beban (kalau diberi, lebih bagus sebagaimana saran Pak Fortuna), dia akan otomatis geser ke bawah; nutup. Pintu juga perlu diberi kancingan sehingga tidak berisiko terbuka saat kita membuka/mengangkat kerodong. 5. Usahakan penutup sangkar bagian bawah (yang berupa jeruji maupun yang berupa lembaran papan/tripleks/seng) bisa dikancingkan (dan selalu dikancingkan seusai sangkar dibersihkan), sehingga kalau sangkar dalam kondisi miring, penutup tersebut tidak membuka sendiri.

6. Tidak memberi/mengganti makan-minum secara langsung ketika burung masih di sangkar; usahakan burung sudah dimasukkan karamba. Kalau terpaksa, maka lakukan itu di ruang tertutup atau usahakan tangan kiri (kanan) menjaga pintu bagian bawah yang terbuka ketika tangan kanan (kiri) masuk sangkar. Hal ini terutama perlu diperhatkkan untuk sangkar2 model bulat dimana bukaan pintu sampai di dekat dasar sangkar dan sangat rawan diterobos burung.

7. Selain sangkar, perhatikan pula karamba Anda. Apakah pintunya bisa melorot sendiri begitu kita lepaskan atau masih terlalu seret sehingga perlu ditekan. Usahakan bisa licin dan menutup sendiri. 8. Sediakan selalu semprotan yang didalamnya sudah ada cairan sabun/sampho (sebagaimana juga disarankan Mbak Dwi) untuk menyemprot burung yang lepas. Dan sekadar cerita saja: karena pengetahuan ini, saya pernah menangkapkan burung AK-nya Mas Samino, teman penangkar Solo, dua ekor sekaligus (sepasang) dalam waktu yang relatif cepat. Dan berkat itu. . . hehehehehe. . . . saya dapat MB anakan dengan harga diskon besara2an. . . . Cara itu biasanya memang efektif untuk burung yang sudah mapan/jinak.

9. Sediakan juga pulut/getah bendo atau getah nangka (yang bagus getah bendo skarena lengketnya luar biasa tetapi mudah dibersihkan dari bulu burung) seperti disarankan Pak Fortuna. Sediaan pulut, tentu saja sekalian dengan tongkat yang kecil, panjang dan ringan, yang bisa menjangkau ketinggian atap rumah/pepohonan. Caranya, rekatkan pulut ke separuh bagian lidi yang diikatkan di ujung tongkat. Lekatkan jangkrik (tidak mutlak) ke bagian tengah lidi; sorongkan ke arah si burung secara perlahan2 (ini biasanya juga hanya efektif untuk burung yang sudah mapan/jinak).

10. Lebih dari itu, jangan terlalu PD akan kondisi sangkar kita sebelum kita benar2 mengeceknya setiap hari; setiap saat.

(dikutip dr:omkicau.com)

AM bunyi dan teler nggak stabil

AM bunyi dan teler tidak stabil biasanya karena:

1. Perawatan yang berubah2, tidak teratur dan tidak konsisten (pakan, EF, mandi, jemur).

Kalau jemur cuma 1 kali seminggu dan bunyi terus, nggak usah dilatih untuk jemur setiap hari. Kalau mandi biasa disemprot dan nggak mau dikaramba, ya nggak usaha sekali2 dikaramba sambil dipaksa2 masuk ke keramba. Kalau diberi makan pakan murahan sudah OK, nggak usah diganti2 pakan lain dengan asumsi “biar lebih bagus”. Orang yang suka opor atau soto saja kadang emoh diberi hotdog, pizza atau kue keju kok, meski konon gizinya lebih tinggi.

Kalau biasanya dengan jangkrik 1 sehari sudah OK, nggak usaha digeber dengan 4-5 jangkrik dengan asumsi biar lebih OK.

Orang burungnya nggak suka repot2 kok kita malah yang lebih repot dengan asumsi “biar lebih bagus”. Kalau Anda merasa memang perlu mengubah menu pakan, pola jemur, mandi dan sebagainya, ya diubah saja secara perlahan dan setelah itu dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan serta jangan diubah2 lagi.

Selama masa pengubahan, pasti akan ada perubahan konsistensi dalam bunyi dan perilaku burung. Ya sudah, tunggu saja sampai dia mapan dan bunyi secara stabil.

Berapa lama waktunya? Ya tergantung. Yang jelas, bukan dalam waktu sehari dua hari. Bisa sepakan, bisa sebulan dan sebagainya.

Kita sering menjadi uring2an pelihara burung karena kita sendiri tidak pernah konsisten. Dengar nasihat A, dituruti. Nasihat B dituruti, tapi diubah lagi karena nasihat C dan sebagainya. Nah, kemudian kitab berpikir “wah ini burung kok sulit sekali ya….” Padahal, kenyataannya kita sendiri yang “sulit” dan “nggak berprinsip”.

Seandainya AM bisa ngomong, maka dia akan berkata, “Wah si bos ini gimana sih, orang kok bingungan. Udah enak2 makanan yang kemarin kok disuruh makanan kayak gini……hoeeek…….” Maka, ngambeklah dia.

Hehehehe.

2. Karena masih muda dan kalau diibaratkan manusia anak2, dia belum punya “pegangan” dan belum menemukan “kesenangan”. Celakanya lagi, sudah AMnya muda, belum ada satu setengah tahun misalnya, sudah harus gonta2 makan dan perawatan. Weleh-weleh….

Soal AM nggak seperti MB, ya lain donk. Itulah bedanya burung fighter dan bukan. Sejumlah burung disebut fighter karena sangat peka dengan bunyi2an di sekitarnya apalagi ketemu sesama fighter. Jangankan ketemu burung lain, dengar suara tokek di malam hari, kadang2 MB langsung menyahut dan bernyanyi nggak kalah seru kok.

Nah, AM bukanlah burung fighter, seperti halnya MB, kacer, decu, larwo atau tledekan/sulingan.

Soal bagaimana burung cepat berkicau, ya semuanya melalui proses. Nggak bisa kita beli burung yang bisa instan kita rawat dan langsung OK. Kecuali tentunya, kita beli burung yang sudah jadi, burung kelas latber ataupun burung lapangan.

(dikutip dr:omkicau.com)

Gambar Branjangan

mirafra-javanica
Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org)

mirafra-javanica1-wwwavicedaorg
Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 1

Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 2
Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 2
Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 3
Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 3

Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 4
Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 4


Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 5


Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 6
Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 7
Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 7

Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 8
Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 8

Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 9
Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 9


Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 10
Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 11
Branjangan / Mirafra Javanica (www.aviceda.org) 11

(dikutip dr:omkicau.com)





Tledekan yang berbakat/mudah nyeklek

Satu tips kecil untuk mencari tledekan (TL) yang mudah disetting untuk nyeklek:
Terlepas dari mudah nyeklek atau tidak, mutlak sebenarya mencari TL yang volumenya tembus/keras, terutama kalau untuk lomba.
Sedangkan untuk pemilihan secara umum, setelah volume, cari TL yang kalau “main” tidak buka ekor, tetapi hanya nembak dan jengkat jengkit atas bawah.
TL yang tidak buka ekor, relatif mudah settingannya agar ngerol nyeklek ketimbang yang ekor buka.

1. Main embun (keluarkan dari rumah mulai jam 03.30 dini hari).
2. Main (dicas) cewean

(dikutip dr:omkicau.com)